background img

The New Stuff

"Allah Ta'ala telah menetapkan pada saat menentukan takdir makhlukNya, bahwa seseorang akan bersama orang yang dicintainya, Sungguh alangkah agungnya nikmat ini bagi para pecinta."

Babak Baru (1)

Jakarta, 19 Januari 2015/18 Robiul Awal 1436 H
Pukul 02.00 WIB

Kepada yang terkasihi
Ahmad Ziyad

Assalamu’alaikum wr.wb
Bagaimana kabarmu hari ini sayang ? Semoga Allah Ta’ala selalu melindungi dan mencukupkanmu. Semoga Allah senantiasa pula menemanimu dalam keadaan bimbang dan tak tentu arah.
Aby sayang . . . Tak tau apa yang harus kutuliskan lagi pada selembar kertas ini. Kertas ini pada awalnya putih, bersih, tanpa ada setitik noda pun yang tergambar jelas. Sama seperti hubungan yang telah kita jalin selama ini. Aku tidak menyangka sebelumnya kita bisa sampai di tanggal 29 yang ke 24 ini. Tak terbayang sebelumnya aku dan dirimu berada di satu titik yang cukup jauh dari akal sehatku selama ini.
Aku memang tak memiliki cerita romantis saat kita bertemu. Mengalir begitu saja mengikuti skenario dari Sang Pemilik Cinta. Tak disangka. Tak terduga.
Sebelum aby datang kedalam kehidupanku, aku telah menutup rapat-rapat pintu hati dan membuang kuncinya entah kemana. Aku sudah terlanjur sakit dengan manisnya cinta dan aku takut untuk memulainya lagi denganmu. Seorang pria yang baru aku kenal. Tadinya aku berfikir untuk tidak memulai api cinta itu lagi, karena masih terbayang bagaimana perihnya ketika api itu menyulut jiwa dan raga ini.
Namun aku melihat ada cahaya yang berbeda dari seorang Ahmad Ziyad. Cahaya yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Menyejukkan. Sangat menyejukkan.
Dengan kesungguhan dan keyakinan yang aby berikan, aku melangkah mantap untuk menghadirkan dirimu kedalam kehidupanku. Aku juga tidak tahu apakah benih-benih cinta itu mulai tumbuh di ladang hatiku. Sempat keraguan itu datang menghampiri. Mungkin aku salah telah menarikmu kedalam kehidupanku, tapi Allah  tidaklah salah mempertemukan kita karena memang inilah perjalanan kita.
Detik berganti detik, menit bergulir dengan cepat, jam tak terasa berputar, hari demi hari kita lewati, bulan berganti dan tahun pun ada di genggaman kita. Keyakinanku bertambah. Saat kau utarakan niat baikmu padaku aku menyambutnya dengan suka cita, dengan kegembiraan seraya berharap dan berdoa semoga ini bukan khayalan dan mimpi semata. Semoga ini bukan pemanis yang disuguhkan seperti orang lain di masa lampau yang telah menghidangkannya dengan begitu apik sampai mataku terpana. Semoga ini benar-benar tulus keinginan darimu bukan paksaan siapa pun.
Aby. . .kita mempunyai banyak harapan dan cita-cita yang kita sudah sama-sama mengetahuinya dan ingin cepat-cepat untuk mewujudkannya bersama. Aku tahu benar. Aku paham sayang.
Perlahan aku utarakan niat baik kita kepada kedua orang tuaku, dan aku sudah membayangkan jawaban dari keduanya. Umiku, seseorang yang telah melahirkan aku tidak pernah memaksakan kehendak dan keinginannya kepada ku. Beliau hanya ingin melihat putri kecilnya bahagia. Beda halnya dengan abaku, seseorang yang darahnya mengalir didarahku di setiap arteri dan vena di tubuhku. Beliau mempunyai keinginan yang keras untuk menjadikan aku seorang wanita yang berdiri sendiri dan tidak bertopang kepada siapa pun, sekali pun itu adalah suaminya.
Aba memang berbeda dengan orang tua laki-laki lainnya. Tadinya aku merasa terkukung dengan segala sesuatu yang beliau buat terhadapku. Terkadang aku berfikir, mengapa aku tidak seperti teman-temanku yang bebas berekspresi, bebas menentukan pilihannya. Tapi aku sekarang sadar, betapa besar rasa cintanya untukku, hanya demi  sebuah kebahagiaan.
Tidak ingin aku ungkit lagi sebenarnya kejadian yang sangat menyakitkan untukku, saat aby memutuskan untuk pergi meninggalkan cita dan harapan yang mulai kita bangun. Mungkin sepenggal puisi ini dapat mewakilkannya . . .

Kau tahu sayang, apakah kau tahu ??

Pertama kali kujumpa aku mulai membangun tembok beton itu
Lalu kusandarkan berjuta angan dan impian padanya
Tembok itu kian lama kian kokoh tak tergoyahkan
Aku semakin mantap tuk bertumpu padanya
Namun saat kudengar suara petir yang begitu kencang . . . .
Tembok kokoh itu runtuh seraya runtuhnya angan dan impian yang  kusandarkan
Sedangkan aku berusaha untuk menahannya, tapi . . . .
Aku ikut jatuh tersungkur menanggung tembok beton yang kubangun sendiri

Saat kutahu terjatuh itu sakit
Saat itu juga kutahu dinginnya kesendirian
Terbeku dalam jeritan tak bertuan
Sampai pelangi berwarna kegelapan

Aku terus berlari kencang
Menerobos angin dan gerimis
Sampai aku mual dan merangkak perih
Semakin tak berdaya mengarungi pelabuhan cinta

Mungkin telah aku beritahu maksud dari tulisan ini kepadamu. Mungkin aku salah mencintaimu, mungkin aku salah telah memasukanmu kedalam seklumit ceritaku. Maaf kan aku by, maafkan aku sayang.
Saat aku menulis surat ini untukmu, tak henti-hentinya aku menangis. Tak henti-hentinya aku memohon agar Allah meluluhkan hati aba yang masih beku . Tak henti-hentinya aku berdoa agar Allah tetap memberimu kesabaran dalam masa penantian ini. Tunggu aku by, aku mohon tunggulah aku. Apa yang harus aku lakukan agar kamu bersedia menunggu aku ??
Pernah aku ceritakan kepadamu bagaimana hari-hariku saat aku harus sendiri. Hidupku tak bergairah, seperti ada yang mencekik leherku. Langkah kakiku selalu gontai tanpa ada sebuah pengharapan didepan mata. Begitu kerasnya aku bangkit dari kecanduan cintamu, begitu kerasnya aku bangun dari peraduan cintamu, dan begitu kerasnya aku harus menerima kenyataan yang telah disuratkan untukku. Tidak mudah sayang. Tidak semudah perkataan teman-temanku yang setiap saat datang untuk menghapus air mata ini. Perlahan aku bangkit walaupun tak sekokoh dulu. Aku memang terlihat begitu tegar diantara hamparan batu karang dilautan namun terlihat mendayu diantara pasukan perang bersenjata.
Lima bulan aku lewati masa-masa tersulit dihidupku, aku harus menjalani ujian komprehensif, praktik klinik kebidanan II, praktik kerja lapangan di Magelang, praktik klinik kebidanan III, Ujian Akhir program, dan Karya Tulis Ilmiah tanpa kehadiranmu, orang yang selama ini membuat aku semangat untuk lulus tepat waktu.
Begitu kagetnya juga aku saat  mengetahui jika kamu telah mempunyai pengganti diriku dalam waktu yang relatif singkat. Tanpa kamu beritahu, aku tahu siapa perempuan yang paling beruntung itu. Makin sirnalah harapanku untuk kembali bersamamu. Saat itu aku yakin kamu pasti akan memilih dirinya untuk dijadikan istrimu. Bertambah sedihlah hatiku. Rasanya seperti di panah dan busur panah itu tepat mengenai jantungku.
Tak berani  berharap banyak lagi kepadamu, aku hanya bisa berhusnudzon kepada Allah mungkin ini yang terbaik yang Allah telah hadiahkan untukmu, untuknya dan untuk diriku.  Saat kerinduan itu datang menghampiri, aku hanya bisa flash back dalam angan dan imajinasi tempurung. Yaa sudahlah tak ada daya dan upayaku.
Aku berusaha untuk kembali bangkit dari lembah ketidakberdayaan itu. Aku mulai menikmati hidupku kembali. Aku mulai belajar untuk menerima semuanya. Tapi, aku melihat cahayaku yang sempat hilang itu kembali. Cahaya yang membuatku terperangah dan terbelalak.
Entah Keagungan apalagi yang ingin Ia berikan padaku, aku merasa didekap dengan pelukan hangat dari Cinta dan Kasih-Nya. Aku tak tahu skenario apalagi yang harus aku perankan kedepannya.
Aby. . . di bulan Juni tanggal 21 tahun 2014 yang lalu. Aku bertemu dengan cahaya itu kembali. Aku melihat sayup-sayup cinta itu lagi di sudut bola matamu, walaupun aku tidak dapat memastikannya. Tatapan mata yang telah lama aku rindukan. Sapaan hangat yang telah lama aku idamkan kini ada dihadapanku kembali. Semua orang tersontak kaget saat mereka menemui aku kala itu.
Aku tak menyangka kemanisan brownis adinda itu menjadi awal kembalinya kedekatan kita. Jalan menuju rumahmu ke rumahku terasa begitu sangat singkat, tapi sungguh berkesan untukku.
Kita jalani kembali tali yang sempat putus, kita rajut kembali benang yang terhenti tersulam. Mulai kubangun lagi tembok yang hancur berkeping-keping itu, aku kumpulkan satu demi satu puing-puing dan aku rekatkan kembali pada tempat yang semestinya ia berdiri.
Dalam perjalanannya aku begitu merasakan cinta yang teramat mendalam darimu. Aku juga begitu mencintaimu, walaupun aku tidak tahu apakah kau merasakan getaran yang lebih hebat dari yang kemarin. Aku merasa begitu teristimewa. Aku merasa amat tersanjung. Dan aku begitu menikmati keadaan kita yang sekarang.
Masa depan yang tadinya pupus kini kembali kita torehkan bersama. Entah keyakinan apa yang telah merasuk kedarah dagingku sehingga aku begitu sangat terkesan dengan kehadiranmu kembali.
Aku begitu bertumpu kepadamu sayang. Benih itu mulai membesar dan berakar, sulit rasanya untuk dicabut, kalaupun nantiya kau yang akan mencabutnya mungkin akan menyisakan kerusakan tanah di ladang itu.
Masih ingat betul setiap kali kita membahas rencana pernikahan kita by, membahas tentang anak-anak kita, tentang masa depan kita rasanya aku ingin memutar waktu sampai hari itu benar-benar aku jalani bersamamu. Ya bersamamu by bukan orang lain.
Mencintai itu bukan untuk menyakiti satu sama lain by, tapi untuk bertukar kebahagiaan. Mencintai itu tentang kesabaran by, bukan tentang keegoisan diri pribadi. Lagi-lagi aku ucapkan aku begitu mencintaimu dengan segala yang ada didirimu dan kehidupanmu. Aku ingin menjadi bagian terpenting dihidupmu. Bukan hanya sekarang tapi selamanya, seumur hidupku.
Aku bukan bermaksud mendahulukan Allah sebagai Tuhan Semesta Alam.  Aku hanya berdoa kepada-Nya agar Ia meng-aminkan seluruh yang ku pinta. Aku tahu Allah memberi segala sesuatu sesuai dengan kebutuhanku agar aku pandai-pandai bersyukur atas segala nikmat yang telah aku nikmati. Aku sadari Allah memberi segala sesuatu yang dirasa oleh-Nya cukup untukku agar aku tak putus memohon segala kebaikan yang bersumber dari-Nya.
Hari ini ditemani dengan rintikan air hujan yang jatuh ke bumi-Nya Allah aku tak kuasa untuk menyembunyikan isi hatiku. Semuanya tumpah ruah menjadi buih-buih yang tak terhitung olehku. Aku memang tak mampu untuk mengungkapkan seluruhnya kepadamu, aku hanya bisa menuliskan apa yang aku maksud.
Jujur. . .
Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Aku merasakan kekuatan yang tidak aku temui  dengan orang sebelummu. Entahlah, aku juga tidak memahami dan tidak mampu mendeskripsikan perasaan seperti apa itu. Perasaan itu kian lama kian bergejolak, seperti tersengat oleh aliran berkekuatan tinggi.
Sayang. . . berulang kali aku katakan kepadamu aku mencintaimu, aku menyayangimu. Mungkin aby bosan mendengar kata-kata itu lagi. Aku minta maaf by. Andai ada kata lain untuk menggantikannya, aku akan mengucapkan kata yang berlainan untuk setiap harinya.
Aku takut sekali kehilangan aby untuk kedua kalinya. Aku memohon kepada Sang Rahman agar selalu menyatukan hatiku untuk hatimu dan hatimu untuk hatiku. Aku memohon kepada Sang Rahim untuk selalu menyatukan jiwaku untuk jiwamu dan jiwamu untuk jiwaku. Tak luput disetap doaku aku memohon agar Allah senantiasa menjagamu untukku.
Menurutku 24 bulan itu bukan waktu yang sebentar, aku sudah mulai mengenalmu. Mengenal sifatmu, mengenal kebiasaanmu, mengenal kepribadianmu walaupun belum sepenuhnya aku kuasai. Aku makin mantap melangkah bersamamu by.  Akan aku arungi walaupun sulit untuk kuarungi. Akan aku terpa segala kesusahan yang selalu membayangi. Akan aku terjang seperti kuatnya dirimu menaklukan Mahameru.
Maafkan aku yang tekadang selalu bertingkah selayaknya anak kecil. Kita memang terpaut usia yang cukup jauh. 6 tahun lamanya. Banyak orang lain yang bilang pautan usia itu tidaklah penting dalam menjalin suatu hubungan,  tapi menurutku pautan usia itu penting. Kenapa?? Karena laki-laki dewasalah yang aku cari. Laki-laki yang mampu untuk berkomitmenlah yang aku mau. Laki-laki yang selalu membawa aku ke masa depannyalah yang aku inginkan. Laki-laki yang selalu menuntunkulah yang aku dambakan. Laki-laki sepertimulah yang aku idam-idamkan.
Aku belum sempurna sebetulnya, begitu juga dengan dirimu. Bukan kesempurnaan yang aku cari, tapi bagaimana kita menyatu untuk menjadikan sempurna bagi satu sama lain itu yang terpenting.
Selama ini aku mempelajari tentang pribadiku dan pribadimu by, tidak ada kesamaan diantara kita. Tapi itulah uniknya. Berbeda bukan berarti kita tak mampu mendulang kebahagiaan.
Kita sudah merintis kebahagian dari awal kita bertemu by, dengan berjuta peluh yang terkucur. Aku tidak mau hanya karena kesalahan kecil kebahagiaan itu hilang. Aku tidak mau karena emosi sesaat rencana masa depan kita hancur by.
Aku tak suka caramu marah by. Kamu selalu diam saat kamu marah. Aku seperti kehilangan sosok yang setiap saat mengkhawatirkan aku. Aku kehilangan canda tawamu by. Aku kehilangan Ahmad Ziyad yang selalu memberiku senyuman di pagi hari dan memberikan pelukan kecil di malam harinya. Aku kehilangan itu by.
Bisakah kau ubah itu untukku sayang. Aku terlalu sensitif by, terkadang aku lebih memilih menggunakan perasaan dari pada logikaku sayang. Saat aby diam aku lebih memilih untuk menangis dari pada beradu argumen denganmu. Sedih by. Bingung. Tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku diam aby lebih mendiamkan aku. Aku beragumen itu malah membuat keruh suasana. Aku diam by, lebih baik aku yang diam.
Intinya kita harus lebih saling mengenal satu sama lain by. Untuk menuju mahligai pernikahan itu memang tidak semudah rencana yang telah kita susun. Perlu banyak persiapan terlebih lagi kesiapan psikologis dan mental.
Aku tahu pekerjaanmu sebagai abdi Negara yang mengharuskan aby untuk siap siaga selama 24 jam penuh. Insya Allah by aku akan terus mendukung pekerjaanmu, mendukung passion yang sudah terbentuk didalam dirimu asalkan itu masih dijalan Allah aku tidak akan pernah bosan untuk memberimu semangat. Untuk hobimu yang suka menantang alam, sebenarnya aku sedikit khawatir akan keselamatanmu by. Bukannya aku melarang, tapi hanya sebatas ketakutanku akan kehilangnmu. Semoga kau dapat mengerti sedikit kecemasanku ini by.
Untuk pekerjaanku by, aku seorang bidan yang mungkin harus terus terjaga sepanjang malam. Aku mohon dengan sangat akan pengertianmu terhadapku. Insya Allah aku juga tidak akan melupakan kodratku sebagai seorang wanita yang mempunyai tugas sebagai pelayan setia suamiku dan pendidik sejati bagi anak-anakku. Aku mohon agar engkau terus membimbing aku dalam menjalankan tugas dan peranku nantinya. Tegur aku saat aku salah, tegur dengan perkataan lembutmu by bukan dengan kekerasan. Bawalah aku ke jalan Surga-Nya yang didalamnya terdapat kebahagiaan yang abadi, yang didalamnya tidak ada rasa kecemburuan antara penduduk Surga yang satu dengan yang lainnya.
Rasanya tak cukup aku tuliskan apa yang ada dihatiku lewat tulisan ini by, terlalu banyak yang ingin aku utarakan dan berbagi kisah denganmu. Jangan tinggalkan aku by, aku mohon. Tetaplah menjadi seperti yang sekarang.
Belum lama ini hari yang aku tunggu itu datang by, hari dimana aby dapat bertemu dengan aba. Bahagia awalnya by. Aku juga tidak tahu tentang jawaban aba tentang hubungan kita. Memang rasanya terlalu lama jika harus menunggu 2 tahun lagi, aku merasakannya by. Sepulang aby dari rumah sempat aku bernego dengan aba. Aku ingin tetap menikah denganmu setelah aku lulus by. Mungkin di akhir tahun ini atau di awal  tahun depan itu mauku by. Tapi aba masih bersikukuh untuk keputusan awalnya. Aku tak mungkin menolaknya by. Berulang kali aba bilang “Yaa berdoa sajalah semoga aba berubah fikiran.”
Hatiku langsung tercabik mendengar keputusan aba seperti itu by. Yang aku fikirkan hanya keadaanmu by. Terlebih lagi aku melihat sikapmu yang seperti itu, tambah hancur aku by. Sudah terlanjur banyak air mata yang jatuh by. Aku mau di awal yang baik ini menjadi cambuk yang baik juga untuk kita kedepannya. Bukan saling diam seperti yang aku rasakan saat ini.  Aku begitu takut akan kehilangan dirimu by.
Kamu memiliki berjuta pesona untuk memikat hati setiap wanita disekelilingmu dengan mudah by, terlebih lagi kamu memiliki rekanan yang cukup banyak. Aku hanya takut by. Aku takut aby berpaling dari duniaku. Maaf kan atas segala ketakutanku terhadapmu by.
Sudah terlampau banyak cerita cinta yang telah kita lewati bersama. Sudah terlampau banyak melodi yang kita ciptakan untuk saling bercinta. Sudah terlampau banyak jalan setapak yang telah kita arungi berdua. Rasanya tak mampu lagi tuk aku tuliskan didalam lembaran-lembaran ini. Hanya Rabbi yang tau pasti.
Allah pasti punya rencana lain dibalik pertemuan kita. Diantara bermilyar-milyar manusia Allah mempertemukan kita berdua dengan suatu alasan yang mungkin kita berdua hanya memprediksikannya bukan memastikannya. Allah pasti telah menyusun skenario kehidupan kita berdua kedepannya. Entah kita berjodoh ataupun tidak, yang pasti skenario itu telah dirancang sedemikian rupa sehingga terlihat begitu cantik nan memukau makhluk ciptaan-Nya.
Apakah kamu tahu by??
Dirimu selalu aku banggakan didepan siapa pun terlebih lagi didepan kedua orang tuaku dengan harapan kebekuan itu lambat laun akan mencair.  Aku tidak tahu apakah caraku ini salah atau benar yang pasti aku ingin mereka tahu bahwa laki-laki yang aku cintai akan membawaku hidup bahagia bersamanya. Selamanya. Agar mereka tahu aku tidak salah memilihmu untuk menjadi pemimpinku.
Berjuanglah bersamaku by, berjuang untuk menyatukan cinta kita. Jalan memang belum terbuka lebar, tapi kunci pintunya sudah ada ditanganmu. Aku kembalikan lagi kepadamu, apakah kau mau membukanya untuk kita terus melangkah ? Atau malah menutupnya kembali.
Sebagai manusia kita memang hanya bisa berdoa dan berencana. Tapi tahukah aby doa dari hambanya yang taat dapat merubah takdir. Dari dulu aby itu adalah segala kemungkinan yang selalu aku semogakan. Dari ketidakmungkinan itu ada bulir-bulir doa yang menjadi sebuah kemungkinan dan sampai saat ini pun aku belum tau jawaban dari doa itu. Mungkin Allah telah menjawabnya tapi karena dosaku yang terlampau banyak jawaban itu hanya bias-bias semata.
Disaat hujan turun, terlalu banyak kisah tentang hujan yang telah kita terjang. Selalu menyisakan manis dan pahit. Terkadang terlihat pelangi setelahnya dan tak jarang hujan itu berubah menjadi badai petir yang menghujam.
Jika aby merindukan ½ dienmu maka aku juga merindukan menjadi ½ dienmu. Terkadang aku risau tatkala melihat teman-temanku telah menemukan yang ½ itu dan aku yakin aby mungkin mersakan hal yang sama dengaku. Lagi dan lagi aku hanya dapat bergantung pada kekuatan doa dan berharap triliunan malaikat ikut meng-aminkan doaku.
Apa yang harus aku perbuat untuk meyakinkanmu by?? Tinggal sedikit lagi Insya Allah kita rengkuh kebahagian bersama. Aku mohon bersabarlah by. Akan aku kerahkan semuanya hanya untukmu. Demi masa depan yang telah kita rancang berdua. Aku mohon padamu sayang, berjuanglah bersamaku karena jika aku sendiri yang berjuang aku bagaikan berjalan bak orang pincang yang berlari melawan arus.
Aku tahu by, aku bukanlah seorang wanita sempurna yang memiliki segala keindahan dunia. Aku hanya wanita sederhana yang mencintaimu dengan kesederhanaan yang aku miliki. Aku juga bukan ahli ibadah seperti Siti Fatimah RA putri Rasulullah Muhammad istri dari Sayyidina Ali RA. Aku masih banyak kekurangan disana sini. Sedangkan dirimu mempunyai perangai yang indah.
Kamu adalah seorang laki-laki yang baik akhlaknya, yang taat beribadah kepada Allah dan selalu berusaha mengikuti ajaran Nabimu. Tapi lihatlah aku, seorang wanita yang penuh dengan kebatilan. Semoga di dalam masa penantian ini Allah senantiasa mengelokan akhlakku sehingga aku sepadan denganmu.
Aby telah bertemu dengan abaku. Atas nama pribadi aba aku meminta maaf kepadamu jikalau ada ucapan dari lisan aba yang menyakiti hatimu. Bukan maksud aba untuk menyakiti hatimu, tapi begitulah dirinya. Biarlah aby yang menilai sendiri bagaimana sifat kedua orang tuaku, sifat keluargaku. Karena aku sedikit banyak telah mempelajari bagaimana sifat keluargamu. Dan itulah hal yang terpenting sebelum kita berdua membangun rumah tangga. Menikah bukan hanya menggabungkan dua kepala tapi menggabungkan dua keluarga, dua adat istiadat yang berbeda, dua kebiasaan yang berbeda, dan masih banyak perbedaan lainya. Tapi aku menyukainya.
By, aku terlahir dalam keluarga minang dimana adat istiadat begitu kental terasa. Pada dasarnya kedua orang tuaku tidak mempermasalahkan aku ingin menikah dengan siapa asalkan satu iman dan agamanya baik. Tapi saat aku berkumpul dengan saudara-saudara  lainnya (ninik mamak) keinginan untuk menyandingkan aku dengan orang pilihan mereka terkuak. Jikalau aby pernah melihat tayangan film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” aku tidaklah berbeda dengan Hayati yang terkukung cintanya dengan laki-laki pilihan keluarga besarnya.
Tapi dengan kesungguhan dan keberanian aba, aku tidak mengalami seperti yang dialami Hayati  didalam film tersebut. Mungkin aba selalu dibilang menentang adat istiadat. Tapi menurut aba, tak apalah menentang asalakan aku selaku putrinya bahagia. Dan hal itu terbukti saat aku memilihmu by.
Aku ingin menikah berlandaskan cinta yang diberikan oleh Allah karena pernikahan yang ingin aku lakukan bukanlah pernikahan antara aku dan  adat yang selalu dibanggakan, bukan pernikahan antara aku dan harta, bukan pernikahan antara aku dan jabatan, bukan pula pernikahan yang hanya sebatas kegemerlapan dunia semata.  Semoga namamu yang tercatat di kitab lauhul mahfudzku dan namaku yang tertulis di kitab lauhul mahfudzmu. Aamiin. . . .
By, sampai detik ini aku masih menunggu hari dimana kau datang kerumahku untuk mengkhitbahku dan mengucapkan sighad atasku. Entah kapan waktunya. Tapi aku yakin dengan Kebesaran-Nya.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika nanti aby memutuskan hubungannya denganku untuk kedua kalinya. Aku pasrah by. Biar  jemari Allah saja yang mengaturnya. Semua akan aku kembalikan kepada Yang Maha Kaya, Yang Maha Merajai. Berharap ada belas kasih dari-Nya.
Saat aku tuliskan lembaran ini hatiku sangat merindu akan hadirnya dirimu by. Aku merindu kata-kata cintamu, aku merindu belaianmu walau dari jauh tapi terasa begitu dekat. Tapi kenyataan yang aku dapatkan hanya bungkamnya bibirmu by, tak meninggalkan pesan.
Setelah kedatanganmu kerumahku aku merasa ada jarak yang kau buat sendiri untuk membatasi kita. Seperti ada dinding yang menjarangkan kita berdua by. Entah apa maksudnya. Aku terlalu rapuh untuk mengerti maksud dari sikapmu terhadapku.
Setelah pertemuanmu dengan keluargaku aku merasa sikapmu dingin terhadapku. Sedingin angin yang menemaniku saat ini. Sedingin hujan lebat diluar sana. Kamu kenapa sayang ? Apa aku salah ? Apa abaku yang salah ?
Aku tidak pernah mengetahui apa yang sebenarnya yang kau rasakan by. Aku tidak tau apa yang selama ini kau fikirkan terhadapku dan terhadap keluargaku. Aku bukan seorang psikiater yang mampu membaca dengan lihai gerak-gerik tingkah manusia. Tapi aku sedikit paham, ada suatu hal yang kau tutupi dariku.
Aku tidak ingin seperti ini selamanya by, aku ingin kita yang seperti dulu. Saling berbagi kebahagian dan duka bersama. Aku ingin mendengar kata-kata rindumu terhadapku. Aku ingin mendengar rayuan hatimu. Aku ingin mendengar sapaan halus yang menderma di telingaku. Aku rindu kamu yang dulu by, jauh sebelum aby datang kerumahku.
Senyummu yang kunanti by, bukan guratan kesedihanmu. Kerlingan indah matamu by yang ingin selalu aku tatap. Matamu yang mempunyai segudang harapan tentang masa depan kita. Mata yang selalu memandang kedepan tanpa rasa takut. Mata yang selalu mengingatkan aku akan kesedihan dan kegembiraan. Aku menyukai caramu memandangku by. Aku menyukai caramu memandang tentang kita.
Berjuta harapan telah aku sandarkan kembali by. Sudi kiranya kau dapat mewujudkannya bersamaku. Berjuta angan tentang kebahagian hidup bersamamu telah aku perhitungkan by. Sudi kiranya kau dapat mewujudkannya bersamaku. Berjuta impian tentang biduk rumah tangga bersamamu telah aku kemas dengan rapih. Sudi kiranya kau mempercantik kemasan itu by.
Malam ini kulanjutkan untuk menulis kalimat-kalimat cinta untukmu sayang. Malam ini terlalu dingin, aku hanya duduk meringkuk di kursi yang kemarin kau duduki. Masih terasa hangat. Terkadang aku juga mencium semilir bau harum tubuhmu. Berharap kau datang menemuiku malam ini walau hanya sebetar saja.
Sesekali aku melihat gadget disampingku berharap ada sapaan rindu darimu “ My lagi apa, aby kangen.” Tapi semuanya nihil, tak ada hasil. Saat gadget disamping ini bergetar hatiku berdegup kencang seraya mengharap itu adalah kabar darimu yang telah seharian bekerja. Tapi, lagi-lagi hal itu hanya khayalan dan imajinasiku. Disaat kerinduan ini datang melanda aku hanya bisa berdoa, biarlah Allah yang menyampaikannya padamu.
Aku terkesan dengan kata-kata beliau yang begitu mencubit kecil hatiku “Dalam memilih calon pendamping, jangan terlalu mengandalkan akal. Jika terlalu mengandalkan akal, semuanya akan dipertimbangkan nalar. Maka tanyalah perasaanmu, tanyalah hatimu. Kalau hati sudah cocok, carilah pembenarannya lewat akal” (M. Quraish Shihab).
Terima kasih karena telah menjadi penyemangat disetiap tarikan dan hembusan nafasku. Terima kasih telah menjadi seseorang yang singgah di ladang hatiku. Terima kasih untuk yang ke-24 ini. Semoga Allah senantiasa tetap menjagamu dalam berbagai keadaan dan situasi. Terima kasih atas segala perhatian yang telah kau hadiahkan untukku. Maafkan atas segala kesalahan yang telah aku perbuat kepadamu, bukan maksud hatiku untuk menggoreskan luka  dihatimu. Maafkan aku yang selalu menuntutmu untuk tetap menungguku. Maafkan aku yang selalu merongrongmu untuk tetap bertahan denganku.
Diakhir  tulisanku ini aku bermunajat kepada Pemilik Alam Semesta Ini . . . .
Yaa Allah. . . Yaa Rahman. .  . Ya Rahim Pemilik Keindahan Alam Semesta beserta keindahan yang ada didalamnya. Yaa Aziz . . . terima kasih telah mempertemukan aku dengan Ahmad Ziyad, terima kasih pula Engkau titipkan rasa saling mengasihi diantara kita berdua. Yaa Allah berilah kekuatan kepadanya agar senantiasa kuat dalam menjalani apa yang seharusnya dijalani olehnya. Berikan pula kesabaran dan ketabahan hati untuknya selalu. Allahuma shali ‘alla Sayyidina wa Habibina Muhammad. Satukanlah kami berdua dengan keberkahan atas kekasihmu Yaa Allah.. Peluklah ia selalu dengan ketenangan yang begitu damai. Begitu tentram dihatinya. Tunjukanlah Kebesaran dan Keagungan-Mu pada kami Yaa Allah..Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin...
Sekian sedikit ungkapan hati dariku untukmu. Aku berharap dengan aku tuliskan yang sedikit ini dapat mewakilkan apa yang ada dihatiku, dapat mewakilkan apa yang sedang aku rasakan selama ini, dapat mengambarkan tentang diriku yang mungkin belum sepenuhnya kau ketahui. Aku berharap kau dapat mengerti tentang suratan yang telah digariskan untuk kita . .
Wassalam


                                                                                                         Dari Wanitamu
Legina Anggraeni Syamsiar


Surat ini aku selesaikan pada hari Selasa, 20 Januari 2015/ 30 Robiul Awal 1436 H pukul 22.10 WIB

bersambung... (part 1)

Popular Posts